Selasa, 15 Juni 2021

Siti Manggopoh, Pahlawan Wanita Dari Agam Sumatera Barat


DAILY NEWS ■ Hari ini, 15 Juni 2021 memperingati peristiwa Perang Manggopoh tanggal 15-16 Juni 1908. Perang yang melibatkan rakyat Sumatera Barat melawan pemerintah kolonial Hindia-Belanda akibat penerapan pajak (bahasa Belanda: belasting) langsung kepada masyarakat. Perang ini di pimpin oleh Siti Manggopoh. Semoga untuk tahun kedepan Siti Manggopoh dijadikan pahlawan nasional.

Siti Manggopoh, namanya memang tak seharum RA Kartini, namun perjuangannya melawan Belanda cukup fenomenal semasa zaman penjajahan. Lahir di Nagari Manggopoh Kabupaten Agam, Sumatera Barat, Siti tak pernah mau takluk di tangan kolonial.

Wanita yang akrab dipanggil Mande Siti ini diperkirakan lahir pada 1885, tetapi tak ada rujukan yang tepat mengenai tanggal kelahirannya. Meski begitu hingga kini jika memperbincangkan masalah pahlawan, Siti Manggopoh tak pernah lupa disebut namanya oleh masyarakat Sumbar.

Ia dijuluki "Singa Betina" dari Ranah Minang, betapa tidak ia tak pernah diam ketika daerahnya diperlakukan semena-mena oleh kolonial.

Dalam buku Perempuan-perempuan Pengukir Sejarah, Mulyono Atmosiswartoputra diceritakan awal mula kemarahan Mande Siti, ketika ia tahu Peraturan Pajak di tanah Minangkabau pada awal Maret 1908, diganti menjadi Peraturan Tanam Paksa terhadap rakyat.

Mande Siti tersulut amarah sebab merasa harga dirinya diinjak-injak, mengingat peraturan belasting ini mengenakan pajak tanah yang dimiliki secara turun-temurun.

Alhasil, pemberontakan rakyat yang dimulai dari Kamang hingga akhirnya merambah ke Manggopoh, membuat Siti bersama dengan pemuda militan dari Manggopoh, membentuk badan perjuangan yang terdiri dari 14 orang.

Mereka adalah Rasyid (suami Siti), Siti, Majo Ali, St. Marajo Dullah, Tabat, Dukap Marah Sulaiman, Sidi Marah Kalik, Dullah Pakih Sulai, Muhammad, Unik, Tabuh St. Mangkuto, Sain St. Malik, Rahman Sidi Rajo, dan Kana.

Akhirnya pada 16 Juni 1908 meletuslah Perang Manggopoh bersamaan dengan Perang Kamang yang dikenal juga dengan Perang Belasting.

Setidaknya, tercatat dalam sejarah, kalau Mande Siti berperang dua kali dengan Belanda. Pertama, Kamis malam, 15 Juni 1908, titik inilah perjuangan dimulai.

Siti disebut menjadikan dirinya sebagai umpan, dan menyusup ke markas Belanda yang saat itu bikin perjamuan.

Setelah berhasil menyusup, Siti memadamkan lampu dan memberi tanda kepada para pejuang yang sudah siaga di luar. Mereka pun langsung menyerbu sesudah diperintah dari dalam.

Pertarungan para pejuang dan Belanda pun terjadi dalam kegelapan. Siti membunuh puluhan tentara Belanda. Sementara pejuang lain juga.

Dalam serangan gelap itu, para pejuang, yang tidak satupun gugur, berhasil membunuh 53 dari 55 serdadu Belanda. Dua yang selamat berhasil kabur ke Lubuk Basung walaupun dengan luka serius di sekujur tubuhnya.

Perang kedua terjadi saat dua antek Belanda yang berhasil kabur itu, meminta bantuan tentara dari Bukittinggi dan Padang Pariaman. Insiden itu terjadi pada 16 Juni 1908. Mereka sengaja memporak-porandakan Manggopoh untuk balas dendam. Tak sedikit warga yang menjadi korban kemurkaannya.

Peperangan ini menewaskan seluruh pejuang yang melawan pada saat itu. Ada yang mengatakan pejuang saat itu hanya 5 orang (Tuanku Cik Padang, Tabat, Sidi Marah Khalik, Muhammad, dan Kana), namun ada juga yang mengatakan 3 orang (Tuanku Cik Padang, Kana, dan Unik).

Siti Manggopoh yang mendengar daerahnya diobrak-abrik Belanda, akhirnya mengambil keputusan untuk tetap ikut berperang. Padahal, ia punya anak, yang terpaksa harus ditinggal. Namanya Dalima.

Setelah melakukan penyerangan, Siti Manggopoh pulang ke rumah dan membawa kabur Dalima ke hutan. Di dalam hutan, Siti Manggopoh merawat anaknya. Namun malang, tentara Belanda kemudian menangkapnya dan membawanya ke Lubuk Basung, Agam.

Dari Penjara ke Penjara

Tahun 1963, panitia peringatan Hari Kartini di Kota Padang mengundang Mande Siti untuk bercerita. Saat itu umurnya 78 tahun. Dia sudah rabun, namun tak pikun. Dia mengurai detail saat-saat setelah penyerbuan benteng Belanda.

"Dalam keadaan terluka saya langsung pulang ke rumah orangtua. Kedua anak, saya titipkan di sana. Dalima yang masih bayi langsung saya susui. Si Yaman, anak laki-laki saya langsung merebahkan kepalanya di paha saya. Dia minta dibelai," kenangnya.

Lebih lanjut, Siti bercerita datang seorang nelayan yang mengaku bernama Saibun. "Saya diminta Rasyid untuk menjemput Mande Siti," bisik nelayan itu. Siti membawa Dalima. Mereka naik perahu ke sebuah tempat di mana Rasyid sedang menunggu.

"Dalam keadaan diburu tak baik berlama-lama di sebuah tempat. Kami memutuskan berjalan kemanapun tanpa tujuan, yang penting selamat," urai Mande Siti di hadapan hadirin peringatan Hari Kartini. Penuturan Mande Siti ini dikutip beberapa surat kabar saat itu. Ada juga yang menuliskannya hanya untuk sekadar dokumentasi.

Perjalanan terhenti ketika mereka jumpa seorang peladang tua. Pak Tua itu baik sekali. Selain tumpangan untuk sembunyi, dia memberi makan dan minum untuk Siti, Rasyid dan Dalima. Tidak hanya itu, Pak Tua juga mengobati luka tembak Siti dan Rasyid.

"Dari Pak Tua itu kami mendapat cerita bahwa kami berdua orang yang paling dicari. Karena tak jua ditemukan Belanda murka dan Manggopoh dibumihanguskan. Rakyat tak bersalah ditangkapi, disiksa dan dibunuh. Tak tega melihat rakyat Manggopoh menderita, kami memutuskan keluar dari persembunyian. Menyerahkan diri dengan syarat tak ada lagi rakyat yang disakiti," Siti memutar kembali ingatannya.

Siti saat itu ditangkap lalu dipenjarakan secara terpisah. Adapun suaminya Rasyid, dibuang ke Manado.

Saat ditangkap, di Lubuk Basung, Siti Manggopoh dipenjara selama 14 bulan, lalu dibawa ke penjara di Pariaman. Di sini, Siti mendekam selama 16 bulan.

Ia kemudian dipindahkan ke penjara Kota Padang selama 12 bulan, dan akhirnya dibebaskan oleh Belanda dengan alasan anaknya masih kecil.

Mande Siti meninggal 20 Agustus 1965 dan dimakamkan di Makam Pejuang Manggopoh.

Rabu, 26 Mei 2021

Law Office Yudha dan Partners 1x24 Jam Siap Dukung Laporan FWBB di KPK


DAILY NEWS ■ Law Office Yudha & Partners yang berdomisili di Ruko Sentra Tajur Halang No. 36 Kampung Karet, Desa Tajur Halang, Kecamatan Tajur Halang, Kabupaten Bogor merespon baik apa yang dilakukan Forum Wartawan Bogor Bersatu (FWBB) yang telah melaporkan dugaan korupsi salah satu Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Kabupaten Bogor ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Pada saat dikonfirmasi terkait adanya informasi laporan FWBB di KPK dengan dugaan indikasi Korupsi di salah-satu SKPD Kabupaten Bogor, pada 25 Mei 2021. 

Yudha, SH angkat bicara, "saya apresiasi apa yang dilakukan rekan rekan wartawan, secara kacamata hukum itu sangat baik dan bagus, agar ada efek jera bagi oknum dinas, agar tidak seenaknya dan bertanggung jawab atas apa yang dilakukan," ujarnya.

Sebagai praktisi hukum, lanjut Yudha, saya lihat apa yang dilakukan rekan-rekan wartawan sudah sesuai porsinya, ketika ada bukti atau temuan yang menyimpang sebaiknya dilaporkan, agar ada efek jera bagi oknumnya. 

"Saya dukung atas apa yang dilakukan Forum Wartawan Bogor Bersatu, dan saya siap membantu kapanpun jika dibutuhkan, saya sebagai Praktisi Hukum 1x24 jam, siap bantu masyarakat ataupun rekan-rekan FWBB," katanya, pada Rabu (26/5).

Masih katanya, saya berharap apa yang dilakukan FWBB bisa menjadi contoh untuk masyarakat atau organisasi lain, ketika menemukan atau mendapatkan informasi serta data yang menyimpang sebaiknya dilaporkan.(Red)

Minggu, 02 Mei 2021

Suara Lantang Kapitra, Bungkam Pernyataan Pigai Soal KKB


DAILY NEWS Politikus PDIP Kapitra Ampera merespons eks Komisioner Komnas HAM Natalius Pigai yang menyampaikan narasi berbahaya terkait pemerintah melabelkan teroris terhadap Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua.

"Bahaya, itu. Pernyataan yang menstimulasi konflik, tidak pantas diucapkan mantan komisioner Komnas HAM," kata Kapitra saat dihubungi, Sabtu (1/5/2021).

"Pigai mencoba membawa masalah ini kepada sektarian agama, padahal terorisme itu malahan mulai dan lahir di Eropa. Itu tidak berkaitan dengan agama," jelas ketua DPD Himpunan Advokat dan Pengacara Indonesia (HAPI) Riau.

Dia menilai pernyataan Pigai bakal memunculkan konflik horizontal lantaran mengaitkan pelabelan teroris untuk KKB dengan sentimen agama.

Di sisi lain, pemerintah tidak sedikit pun menyinggung agama ketika melabelkan teroris terhadap KKB. Tetapi, label itu diberikan melalui serangkaian analisis hasil aksi-aksi yang dilakukan KKB di Bumi Cenderawasih seperti membunuh masyarakat sipil, membakar pesawat, membakar sekolah-sekolah, dan memperkosa anak perempuan di Papua, aksi-aksi keji serta teror lainnya.

Sebelumnya, Natalius Pigai menganggap keputusan pemerintah itu kemenangan bagi kelompok teroris dari Taliban dan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Indonesia.

"Setelah pemerintah giring konflik di Papua dengan rasisme/Papua phobia, sekarang pemerintah justru membuka konflik Kristen dan Islam di Papua. Tanda-tanda Indonesia bubar," demikian pernyataan Pigai yang mendulang kontroversial. (**)

Sabtu, 24 April 2021

Forkopimda Morowali Dan Ketua Perstajam Tandatangani Piagam Zona Integritas

 

DAILY NEWS ■ Kepolisian Resort (Polres) Morowali melaksanakan kegiatan penandatanganan Pakta Integritas dan pencanangan pembangunan zona integritas menuju wilayah bebas korupsi dan wilayah birokrasi bersih melayani di lingkungan Polres Morowali, pada Jum'at (23/4/2021).

Kegiatan yang dilaksanakan di Aula Mapolres Morowali tersebut, dihadiri Forum pimpinan Daerah (Forkopimda). Diantaranya, Kapolres Morowali AKBP Bayu Indra Wiguno S.I.K., M.I.K, Bupati Morowali, Dandim 1311 Morowali, Ketua DPRD Morowali, Ketua Pengadilan Negeri Agama Morowali, Ketua FKUB Morowali, Ketua Persatuan Jurnalis Morowali (Perstajam).

Selain itu, tampak Wakapolres Morowali dan tokoh agama serta para Kabag, Kasat, Kasi dan Kapolsek jajaran Polres Morowali. Bahkan para Kasium Polsek jajaran Polres Morowali pun ikut hadir. 

Diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia raya yang dilanjutkan dengan pembacaan doa serta sambutan Kapolres Morowali dan pembacaan pernyataan deklarasi oleh Kapolres Morowali diikuti personil Polres Morowali. 

Rangkaian kegiatan selanjutnya, adalah penandatanganan Piagam Pencanangan Pembangunan Zona Integritas oleh Kapolres Morowali, Bupati Morowali, Dandim 1311 Morowali, Ketua DPRD Morowali, Ketua Pengadilan Negeri Agama Morowali, Ketua FKUB Morowali, Ketua Persatuan Jurnalis Morowali. 

Setelahnya, dilakukan penandatangan Pakta Integritas Layanan Publik Antara Kasat dengan Petugas Pelayanan Publik dan ditutup dengan penandatanganan spanduk pernyataan sikap personil Polres Morowali dan dukungan Forkopimda maupun Persatuan Jurnalis Morowali, tokoh agama dan tokoh masyarakat terhadap Polres Morowali dalam memasuki Zona Integritas (Yohanes)

Kamis, 22 April 2021

Bro Rapsel : Kawasan Perikanan Terpadu Serba Komplit Harus Dibangun di Kepulauan Selayar


DAILY NEWS ■ Anggota DPR- RI komisi VI Fraksi Partai NasDem, Muhammad Rapsel Ali melakukan pertemuan dengan awak media yang ada di Kabupaten Kepulauan Selayar, bertempat di Dierra Caffee, Kelurahan Benteng Selatan, Kecamatan Benteng, pada Rabu (21/4/2021). 

Pertemuan tersebut dihadiri oleh beberapa awak media dan Muhammad Aqsa Ramadhan yang juga anggota DPRD Kabupaten Kepulauan Selayar Fraksi Partai Golkar, serta Jonny Hidayat selaku Dirut PD. Berdikari. 

"Saya sengaja mengagendakan melakukan pertemuan ini untuk mendengar secara langsung apa yang menjadi aspirasi atau masukan dari rekan-rekan media untuk Kabupaten Kepulauan Selayar," kata Rapsel Ali. 

Muhammad Rapsel Ali merupakan salah satu tokoh masyarakat Kepulauan Selayar yang dikenal sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Fraksi Partai Nasdem, di kancah nasional Rapsel Ali aktif menyerap aspirasi di daerah pemilihannya yakni dapil 1 Sulawesi Selatan. 

"Sekiranya ada masukan atau aspirasi dari rekan-rekan media silahkan untuk disampaikan, tentu bisa menjadi referensi bagi saya, khususnya untuk membangun Kabupaten Kepulauan Selayar dengan segala potensinya," ujar Rapsel. 

Dalam pertemuan itu, Ketua Mandalika Racing Team Indonesia ini juga sempat menyinggung terkait beberapa potensi yang ada di daerah Kabupaten Kepulauan Selayar. 

"Selayar ini memiliki potensi yang sangat banyak, diantaranya adalah jeruk khas Selayar yang memiliki citarasa istimewa karena jika kita makan itu ada rasa asem dan manisnya, maka dari itu kejayaan jeruk khas Selayar ini harus dikembalikan," ucap Rapsel Ali. 

Terkait potensi jeruk disektor pertanian, anggota DPR- RI dari Fraksi NasDem ini setuju dengan adanya industri untuk mengembangkan potensi yang dimiliki Selayar agar bisa kembali menjadi salah satu komoditi terbaik di Indonesia. 

"Selain itu, potensi perikanan yang kita miliki di Selayar ini tidak bisa diragukan lagi, makanya kedepannya kita harus bisa mengembangkan lebih maksimal lagi potensi yang ada," ungkap Rapsel Ali. 

Muhammad Rapsel ali atau yang akrab disapa Bro Rapsel yang juga merupakan menantu Wakil Presiden Republik Indonesia, menginginkan agar Kabupaten Kepulauan Selayar bisa dibangun Fish Estate untuk membantu pengembangan Kabupaten Kepulauan Selayar. 

"Selayar ini kalau saya beri julukan lebih tetapnya negeri diatas laut, dimana potensi yang ada yaitu perikanan dan wisata bahari. Hal ini harus didukung oleh Pemerintah, saya harap Pemerintah Provinsi bisa lebih fokus membangun Selayar," tutur Rapsel Ali. 

Bro Rapsel juga menambahkan bahwa kawasan perikanan terpadu yang komplit sudah harus mulai dibangun di Kabupaten Kepulauan Selayar, dari pabrik kapal 250 hingga 300 GT yang sudah bisa menangkap dan menjangkau wilayah penangkapan perikanan skala nasional.  

"Saya kira Selayar bisa menjadi bagian dari perikanan skala nasional seperti Maluku, penghasil tangkapan perikanan yang lebih menguntungkan bagi masyarakat," tutup Rapsel Ali.

Irwan

Selasa, 20 April 2021

Penjual Bakso Dibacok di Papua, Ini Penjelasan Dandim 1705 Nabire

 

DAILY NEWS ■ Asep Saputra (50 th) salah satu warga Kampung Yokatapa yang sehari-harinya berprofesi sebagai penjual bakso keliling di Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Papua, menjadi korban pembacokan yang dilakukan dua orang anggota Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB), pada Minggu (18/4/2021).

Komandan Kodim (Dandim) 1705 Nabire Letkol Inf Benny Wahyudi menjelaskan bahwa pembacokan terjadi sekitar pukul 14.30 WIT, saat Asep Saputra yang kelahiran Brebes itu berjualan bakso dengan motornya di depan kantor BPD Sugapa.  

“Pelaku dua orang dan melarikan diri setelah melakukan pembacokan itu. Aparat saat ini sedang melakukan pengejaran terhadap pelaku,” kata Dandim, Senin (19/4/2021).

Akibat bacokan itu, Asep mengalami luka sobek pundak kiri, dada kanan, pinggang kiri dan tangan kanan. Saat ini Asep telah di evakuasi ke RSUD Nabire.  

“Korban sudah berada di RSUD Nabire dan ditangani tim medis di rumah sakit tersebut,” ujar Dandim.

Aksi kekerasan ini, menambah daftar perbuatan biadab yang dilakukan KKB dimana sebelumnya telah membunuh dua orang guru dan satu pelajar serta membakar fasilitas pendidikan berupa sekolah dan perumahan guru. 

Menanggapi hal ini,  pada Minggu (18/4/2021) kemarin, anggota Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat, Syaifullah Tamliha berharap Kepolisian Republik Indonesia menindak tegas aksi KKB di Papua. Bahkan dirinya meminta pihak kepolisian agar KKB didefinisikan sebagai teroris seperti yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2018 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. 

“Saya berharap pihak kepolisian segera menindak tegas aksi tersebut dan menetapkan bahwa organisasi KKB sebagai pelaku terorisme,” katanya.

Menurut Politikus Partai Persatuan Pembangunan ini, aksi KKB yang telah menebar teror dengan membunuh dan merusak serta melakukan kekerasan, telah termasuk dalam definisi terorisme pada dalam UU Nomor 5 Tahun 2018 tersebut. 

“Dalam menentukan sebuah kelompok masuk dalam kategori teroris atau tidak, kita jangan sampai hanya terjebak dengan aksi motif ideologi pada kelompok radikal atau agama saja,” ujarnya.

Tamliha mengatakan bahwa aparat keamanan, baik Polri maupun TNI harus menindak kelompok KKB secara tegas dan tanpa kompromi. 

Ia mengatakan bahkan sudah saatnya TNI memperkuat pasukan dengan menambah jumlah personel. 

“Untuk menumpas KKB yang sangat meresahkan masyarakat tersebut,” pungkas Tamliha. (**)
© Copyright 2019 Daily News | All Right Reserved