Minggu, 02 Mei 2021

Suara Lantang Kapitra, Bungkam Pernyataan Pigai Soal KKB


DAILY NEWS Politikus PDIP Kapitra Ampera merespons eks Komisioner Komnas HAM Natalius Pigai yang menyampaikan narasi berbahaya terkait pemerintah melabelkan teroris terhadap Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua.

"Bahaya, itu. Pernyataan yang menstimulasi konflik, tidak pantas diucapkan mantan komisioner Komnas HAM," kata Kapitra saat dihubungi, Sabtu (1/5/2021).

"Pigai mencoba membawa masalah ini kepada sektarian agama, padahal terorisme itu malahan mulai dan lahir di Eropa. Itu tidak berkaitan dengan agama," jelas ketua DPD Himpunan Advokat dan Pengacara Indonesia (HAPI) Riau.

Dia menilai pernyataan Pigai bakal memunculkan konflik horizontal lantaran mengaitkan pelabelan teroris untuk KKB dengan sentimen agama.

Di sisi lain, pemerintah tidak sedikit pun menyinggung agama ketika melabelkan teroris terhadap KKB. Tetapi, label itu diberikan melalui serangkaian analisis hasil aksi-aksi yang dilakukan KKB di Bumi Cenderawasih seperti membunuh masyarakat sipil, membakar pesawat, membakar sekolah-sekolah, dan memperkosa anak perempuan di Papua, aksi-aksi keji serta teror lainnya.

Sebelumnya, Natalius Pigai menganggap keputusan pemerintah itu kemenangan bagi kelompok teroris dari Taliban dan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Indonesia.

"Setelah pemerintah giring konflik di Papua dengan rasisme/Papua phobia, sekarang pemerintah justru membuka konflik Kristen dan Islam di Papua. Tanda-tanda Indonesia bubar," demikian pernyataan Pigai yang mendulang kontroversial. (**)

Selasa, 27 April 2021

LIPI: Indonesia's Defense Sector Needs Modernization


DAILY NEWS ■ The Indonesian Institute of Sciences (LIPI) took a very serious look at the sinking of KRI Nanggala 402.

The reason is that the sinking of the KRI Nanggala 402 was an accident for the third time experienced by the Indonesian military in 12 months.

In June last year, a 33-year-old BAE Hawk 209 fighter jet crashed in a residential area in Riau province, Sumatra. The pilot made it out on time.

A month later, the 41-year-old KRI Teluk Jakarta 541 drowned after being hit by bad weather in the Bali Sea. The entire 55 crew of the amphibious landing craft were successfully evacuated.

LIPI defense and security researcher Muhammad Haripin said the incident was only the tip of the iceberg of a bigger problem.

For this reason, Muhammad Arifin assessed that currently Indonesia really needs modernization in the defense sector.

"This incident is just the tip of the iceberg and underlines a bigger problem, that our defense sector is in dire need of modernization," said Muhammad Haripin, today.

Before the sinking of KRI Nanggala 402, Indonesia actually had five submarines as well as 31 high-speed warships and 156 patrol boats.

However, according to Muhammad Haripin, that number is not sufficient for an archipelagic country with an area of ​​3.1 million square kilometers of territorial waters like Indonesia.

In addition, he also mentioned that the need to maintain the number of naval assets appears to be the reason why the aging weapons and equipment have not been discontinued.

Because according to him the military equipment and budget are very limited, for this the Indonesian defense sector continues to use old military equipment.

Muhammad Haripin also said that if there is a case where Indonesia prefers to buy used fighter jets and ships rather than buying new ones.

This he said with the same amount of money but could buy more equipment.

"There are also cases where we buy used fighter jets and boats instead of buying new ones, with the same amount of money, we can buy more," he said.

Muhammad Haripin further noted that Indonesia actually set aside more money for the military as in 2011.

The decline, in 2011, the military budget only reached Rp. 44 trillion, which means that in the last 10 years the national defense budget has more than tripled.

According to Muhammad Haripin, this clearly shows that the Indonesian government is committed to dealing with the problem of modernizing old military assets.

"This shows that the various presidents and governments we have are all committed to addressing the problem of modernizing our aging equipment," he said.

However, Muhammad Haripin also said that the budget was not sufficient, given the size and strategic position of Indonesia which is very broad.

"However, the budget is still insufficient considering the size and strategic position of Indonesia," he said. (R-01)

Sabtu, 24 April 2021

Basarnas Deploys 2 ROVs to search for KRI Nanggala 402 in Bali


DAILY NEWS ■ The Remote Operation Vehicle (ROV) from Jakarta was deployed by the National SAR Agency to help find the disappearance of the German-made submarine KRI Nanggala 402, in North Bali waters, on Friday (23/4).

Operations Director of Basarnas Rasman said that the ROV will operate at the point suspected to be the location of the disappearance of the KRI Nanggala 402 submarine.

"That's right (using ROV), we will push to the location to help with the search," Rasman said when confirmed by reporters, on Friday (23/4).

He added that Basarnas has deployed two ROVs from Jakarta to Banyuwangi and now they have arrived at the main post to search for KRI Nanggala 402.

"We deployed two units, at the Banyuwangi main post, which were built by the TNI. Later the ROV will operate using Basarnas ships," he said.

So far, the search team has had the opportunity to search for 4 x 24 hours. Given the oxygen stock in KRI Nanggala-402 is sufficient for 72 hours.

Thus, the joint team tasked with searching for KRI Nanggala-402 until Saturday (24/4) afternoon around 15.00 WIB.

Kamis, 22 April 2021

Panglima TNI Awasi Proses Pencarian Kapal Selam KRI Nanggala-402 di Bali


DAILY NEWS ■ Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto langsung melakukan pencarian kapal selam KRI Nanggala-402 di perairan utara Pulau Bali hari ini, Kamis (22/4).

Mayjen Achmad Riad menjelaskan Marsekal Hadi akan memantau proses penggeledahan bersama Kepala Staf Angkatan Laut Indonesia (KSAL), Laksamana Yudo Margono.

"Dia datang dan nanti akan naik helikopter ke KRI Soeharso untuk mengamati secara langsung," ujarnya kepada wartawan.

Ia menjelaskan, Marsekal Hadi memantau langsung untuk mendapatkan data detail yang nantinya akan disampaikan langsung ke publik.

Di mana sebaiknya jumpa pers diadakan pagi ini, namun karena belum ada data rinci, konferensi pers ditunda pada sore hari.

“Dia masih ingin mendapatkan informasi yang lebih detail dan rencananya dia akan langsung menemui KRI Soeharso untuk bertemu dengan Pak KSAL, agar detail data kondisi seperti apa dari data yang sudah disampaikan agar bisa disampaikan dengan lebih jelas. , "kata Achmad Riad.

Proses pencarian KRI Nanggala-402 yang hilang kontak di perairan utara Bali dilanjutkan pagi ini, Kamis (22/4).

Sejumlah kapal milik TNI dikerahkan dalam upaya menemukan kapal yang hilang kontak sejak Rabu pagi (21/4).

Kapal tersebut diduga mengalami kerusakan pada tangki bahan bakarnya. Hal ini seiring dengan ditemukannya tumpahan minyak di titik awal kapal selam.

Nanggala-402 dijadwalkan untuk berpartisipasi dalam latihan penembakan torpedo hari ini. Kapal yang membawa 53 orang hilang setelah meminta izin menyelam pada Rabu pagi. (**)

Selasa, 20 April 2021

Penjual Bakso Dibacok di Papua, Ini Penjelasan Dandim 1705 Nabire

 

DAILY NEWS ■ Asep Saputra (50 th) salah satu warga Kampung Yokatapa yang sehari-harinya berprofesi sebagai penjual bakso keliling di Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Papua, menjadi korban pembacokan yang dilakukan dua orang anggota Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB), pada Minggu (18/4/2021).

Komandan Kodim (Dandim) 1705 Nabire Letkol Inf Benny Wahyudi menjelaskan bahwa pembacokan terjadi sekitar pukul 14.30 WIT, saat Asep Saputra yang kelahiran Brebes itu berjualan bakso dengan motornya di depan kantor BPD Sugapa.  

“Pelaku dua orang dan melarikan diri setelah melakukan pembacokan itu. Aparat saat ini sedang melakukan pengejaran terhadap pelaku,” kata Dandim, Senin (19/4/2021).

Akibat bacokan itu, Asep mengalami luka sobek pundak kiri, dada kanan, pinggang kiri dan tangan kanan. Saat ini Asep telah di evakuasi ke RSUD Nabire.  

“Korban sudah berada di RSUD Nabire dan ditangani tim medis di rumah sakit tersebut,” ujar Dandim.

Aksi kekerasan ini, menambah daftar perbuatan biadab yang dilakukan KKB dimana sebelumnya telah membunuh dua orang guru dan satu pelajar serta membakar fasilitas pendidikan berupa sekolah dan perumahan guru. 

Menanggapi hal ini,  pada Minggu (18/4/2021) kemarin, anggota Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat, Syaifullah Tamliha berharap Kepolisian Republik Indonesia menindak tegas aksi KKB di Papua. Bahkan dirinya meminta pihak kepolisian agar KKB didefinisikan sebagai teroris seperti yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2018 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. 

“Saya berharap pihak kepolisian segera menindak tegas aksi tersebut dan menetapkan bahwa organisasi KKB sebagai pelaku terorisme,” katanya.

Menurut Politikus Partai Persatuan Pembangunan ini, aksi KKB yang telah menebar teror dengan membunuh dan merusak serta melakukan kekerasan, telah termasuk dalam definisi terorisme pada dalam UU Nomor 5 Tahun 2018 tersebut. 

“Dalam menentukan sebuah kelompok masuk dalam kategori teroris atau tidak, kita jangan sampai hanya terjebak dengan aksi motif ideologi pada kelompok radikal atau agama saja,” ujarnya.

Tamliha mengatakan bahwa aparat keamanan, baik Polri maupun TNI harus menindak kelompok KKB secara tegas dan tanpa kompromi. 

Ia mengatakan bahkan sudah saatnya TNI memperkuat pasukan dengan menambah jumlah personel. 

“Untuk menumpas KKB yang sangat meresahkan masyarakat tersebut,” pungkas Tamliha. (**)

Senin, 12 April 2021

Survey: Gatot Nurmantyo Becomes the Opposition Figure Most Eligible to Become President in 2024

Survey: Gatot Nurmantyo Becomes the Opposition Figure Most Eligible to Become President in 2024

DAILY NEWS ■ The KedaiKOPI Survey Institute released its latest survey regarding opposition figures considered by the public to be the most worthy of becoming president in 2024.

Based on the findings of KedaiKOPI, the name of former TNI Commander General (Purn) Gatot Nurmantyo got first place and was followed by a philosopher from the University of Indonesia (UI) Rocky Gerung.

"Opposition figures, there are names that are familiar, Pak Gatot Nurmantyo and Pak Rocky Gerung. It's the same for both, 13.7 percent, ”said the Executive Director of the KedaiKOPI Survey Institute Kunto Adi Wibowo when presenting the results of the survey virtually, on Monday (12/4).

Furthermore, there is senior economist Rizal Ramli with a gain of 12.6 percent, there is a political observer who is also an expert on constitutional law with Refly Harun with 12.4 percent.

"Then PKS politician Mardani Ali Sera with 11.6 percent," said Kunto.

In addition, the names of other opposition figures who appeared and the percentage was below 10 percent, were Emha Ainun Najib with 9.0 percent and former PP Muhammadiyah Chairperson Din Syamsuddin with 7.9 percent.

"Then Abdullah Hehamahua with 7.9 percent, Said Didu with 6.7 percent, and Rizieq Shihab with 4.5 percent," he concluded.

The KedaiKOPI survey was held during the period of 29 March-4 April 2021. This survey used telesurvey methodology or telephone interviews in 34 provinces in Indonesia and involved 1,260 respondents.(**)

Sabtu, 13 Maret 2021

Begini Seharusnya Kemasan Dupa Dan Tidak Berbahan Kimia

Begini Seharusnya Kemasan Dupa Dan Tidak Berbahan Kimia

Banyak sekali sarana yang digunakan umat Hindu dalam melaksanakan sembahyang. Sarana persembahyangan berasal dari dan merupakan isi alam semesta, ini berarti manusia menghaturkan suksemannig manah (terima kasih) atas berlimpah ruahnya anugerah dari Ida Sang Hyang Wisi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa).

Jro Mangku Suardana (44), Pemangku Pura Tirtha Lan Segara Dangkahyangan Rambutsiwi, Senin (13/7) mengatakan, adapun sarana yang digunakan dalam persembahyangan ini pada dasarnya berupa material diantaranya seperti Bunga, Daun, Buah serta hasil bumi lainnya. Berikut ada sarana Air yang setelah dipuja menjadi Tirtha dan Dupa. Ketiga ini merupakan sarana pokok dalam pelaksanaan persembahyangan yang mempunyai fungsi masing-masing.

Khususnya Dupa atau Hio adalah sebuah material yang mengeluarkan bau wangi aroma terapi dari proses pembakaran. Sesungguhnya banyak sarana upacara keagamaan yang menggunakan dupa bahkan dalam hal Usadha atau Pengobatan.

Di era sekarang, Dupa dikemas dalam berbagai bentuk dan proses, tetapi dupa dapat terbagi menjadi Pembakaran Langsung dan Pembakaran Tidak Langsung tergantung dari budaya, tradisi dan rasa seseorang.

"Sekarang banyak berjamuran tumbuh para pengerajin pembuat Dupa dan proses pembuatan Dupa di zaman sekarang adalah pengembangan dari budaya maupun tradisi. Ini menjadi fenomena yang luar biasa, karena dapat menghasilkan Dupa yang sangat bagus, namun sesungguhnya banyak terjadi kekeliruan atau salah kaprah dalam pengekemasannya, karena banyak sekali para pembuat Dupa ini menggunakan pengharum berbahan Kimia, sehingga ini jelas menyimpang dari makna Dupa sesungguhnya,"  jelas Jro Mangku Suar

Menurutnya, hal terpenting yang harus dimaknai dalam Dupa adalah Api karena Api inilah yang akan menjadi perantara untuk menghubungkan antara Pemuja dengan yang Dipuja. Api disini dimaksudkan adalah Api Suci hingga inilah yang membuat Dupa kemudian dikemas supaya mengeluarkan harum-haruman dan aroma harum ini  diisyaratkan dapat membasmi segala Mala serta mampu mengusir Roh Jahat saat kita bersembahyang.

"Jika kita pahami fungsi dan arti dupa dalam upacara persembahyangan yang dipimpin Pendeta punya arti sangat dalam. Dupa berasal dari Wisma yaitu alam semesta dan asapnya secara perlahan menyatu ke angkasa. Inilah sebagai perlambang menuntun umat agar menghidupkan api dalam raga dan menggerakkan menuju Sanghyang Widhi. Sementara itu, seorang Pemangku atau Pinandhita dalam memimpin upacara menggunakan api dalam bentuk Pasepan yang isinya adalah Menyan (Kemenyan), Majegau dan Cendana dibakar agar berasap dan berbau wangi. Adapun maknanya disini, dimana Kemenyan untuk memuja Dewa Siwa, Majegau untuk memuja Dewa Sada Siwa dan Cendana untuk memuja Parama Siwa. Disinilah Pemangku/Pinandita menggunakan Puja Seha sebagai medianya dan prihal Pasepan atau Asep sangat jelas terdengar pada bait Kidung Warga Sari yang biasa dikumandangkan pada upacara Panca Yajna 'Asep Menyan Majegau, Dendana nuhur Dewane, mangda Ide gelis rawuh, mijil sakeng luring langit, sampun madabdaban sami, maring giri meru reko, ancangan sadulur, sami pada ngiring'. Inilah sebagai permohonan agar para Dewa berkenan hadir dalam pemujaan. Sedangkan makna Dupa sebagai pembasmi segala kotoran tampak jelas pada persembahyangan sehari hari melalui mantram 'Ong Ang Dipastraya Namah Svaha' berarti mohon disucikan diri atas sinar suci Ida Sang Hyang Widhi Wasa," papar Jro Mangku Suar.

Jro Mangku Suar yang juga menjabat sebagai Sabha Walaka PHDI Kabupaten Jembrana ini menambahkannya, Api juga sebagai Saksi Upacara dalam kehidupan dan asapnya sebagai lambang Gerakan Rohani ke angkasa sebagai stana para Dewa serta keharumanya menjadi isyarat penyucian sebagai Sarira Sang Hyang Agni (Yang Maha Melihat) perbuatan manusia. Umat Hindu meyakini ini, seperti apa yang tersurat dalam Lontar Siwa Gama dijelaskan saat rapat para Dewa di Sorga yang dipimpin oleh Dewa Siwa, ketika itu hadir pula Dewa Surya, oleh karena penampilan Dewa Surya sangat simpatik maka Dewa Siwa menganugrahkan tugas agar mewakili dirinya di dunia yaitu sebagai Saksi Alam Semesta dan pada saat itu pula Dewa Siwa bergelar Siwa Raditya. Selanjutnya, Dewa Surya kemudian berguru kepada Dewa Siwa sehingga diberi nama Batara Guru. Sementara itu, pada Lontar Siwa Gama disebutkan bahwa Matahari sebagai ciptaan Tuhan dan Saksi di dunia, maka dari konsepsi ini merupakan dasar setiap upacara Panca Yajna selalu dibuatkan Sanggar Surya mengarah dimana matahari terbit sebagai stana Siwa Raditya.

"Maka sekali lagi saya berharap kepada para pengerajin pembuat Dupa dimanapun berada, agar jangan menggunakan pewangi Dupa dari bahan Kimia, karena ini akan menjadi sia-sia sebab sesunggunya yang bermakna itu adalah Api, Kemenyan, Majagau dan Cendana. Gunakan serbuk dari bahan dimaksud sehingga Dupa berbau wangi secara alami dan menjadi sarana yang tepat dalam persembahyangan. Disamping itu, sarana berbahan Kimia itu adalah sangat berbahaya yang secara langsung maupun tidak langsung bisa akan meracuni para Pendeta dan Pinandita bahkan diri kita sendiri," tegas Jro Mangku Suar.

Hal ini sebelumya juga disampaikan oleh Ketua PHDI Kabupaten Jembrana, I Komang Arsana juga menghimbau, selain tidak menggunakan sarana berbahan Kimia, hendaknya para pengerajin pembuat Dupa juga tidak menggunakan gambar-gambar atau atribut para Dewa.

"Ini akan menjadi sangat riskan, karena para Dewa sebagai manifestasi dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa adalah unsur-unsur yang disucikan oleh Umat Hindu, maka apabila digunakan sebagai pembungkus Dupa nantinya bisa menjadi pemicu permasalahan SARA". Ini jangan sampai terjadi, sebab misalkan pembungkus Dupa yang sudah tidak digunakan kemudian terbuang secara sembarang lalu diinjak baik secara sengaja maupun tidak, terlebih oleh umat lain, ini jelas bisa menjadi pemicu permasalahan atas dugaan penistaan atapun pelecehan. Maka sebaiknya Dupa dikemas dengan bungkus yang selain menggunakan gambar beserta atribut dari apa yang disucikan Umat Hindu,"  jelasnya.

Sementara itu Iwan Pranajaya, Pengurus Harian PHDI Provinsi Bali Bidang Budaya & Kearifan Lokal saat dihubungi via telephone mengatakan bahwa Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) sebenarnya sudah memberikan himbauan agar produksi Dhupa hendaknya berbahan dan dikemas Ramah Lingkungan.

"Nanti akan kami coba sarankan lagi kepada Ketua PHDI Provinsi Bali agar bisa dibahas dalam rapat terkait perkembangan produksi Dupa ini, jika perlu setidaknya ada perizinan sampai ke PHDI," jelas Iwan Pranajaya.

Disisi lain, Jro Mangku Widiana alias Mangku Tamtam (46) seorang pengerajin pembuat Dhupa merk Gandewa asal Jembrana menjelaskan mengatakan bahwa selama menjadi pengerajin pembuat Dupa dirinya selalu mengikuti ketentuan dari pihak-pihak berwenang.

"Dulu kami memang sempat mengkemas Dupa dengan gambar-gambar para Dewa, tetapi kini setelah ada himbauan dan memahami akan arti dan makna Dupa sesunggunhya, sedari itu kami berupaya untuk berbenah dan astungkara Dupa yang kami produksi akhirnya bisa diterima oleh Umat dan menjadi bermakna baik secara Sekala maupun Niskala," kata Mangku Tamtam. (MD/R-01)

© Copyright 2019 Daily News | All Right Reserved