Jumat, 13 Agustus 2021

KEMENKO PMK GANDENG IWAPI dan BPOM ANGKAT EKONOMI UMKM

KEMENKO PMK GANDENG IWAPI dan BPOM ANGKAT EKONOMI UMKM

Jakarta - Kemenko PMK memfasilitasi kerjasama dengan IWAPI (Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia) dan BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) melakukan FGD seri ke-1 Keamanan Pangan UMKM dengan tema “Perancangan PSB (Prasarana dan Sarana Baru) dan CPPOB (Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik) agar UMKM dapat berdaya saing dan go internasional dengan memiliki perizinan-perizinan yang lengkap memenuhi manajemen keamanan Pangan. Hal itu diungkapkan Ir. Aris Darmansyah Edisaputra. M.Eng PLT, Staf Ahli Bidang Pemanfaatan Sumber Daya Kemaritiman Kemenko PMK yang mengawali pembicaraan selaku Keynote Speaker pada hari Kamis (5/8/2021) di Jakarta.  

Nita Yudi selaku Ketum IWAPI dalam pembukaan kegiatan menyampaikan,     “ Terimakasih kepada Kemenko PMK dan BPOM yang sudah bersinerji dan berkolaborasi dalam mendorong percepatan perizinan I-PRT maupun MD, dimana dulu mengurus perizinan banyak dihindarkan oleh teman-teman UMKM, namun berbeda dengan saat ini, UMKM benar-benar mencari tahu dan berusaha proaktif untuk mendapatkan perizinan, bersambut antara pemerintah dan pelaku usaha, disinilah IWAPI hadir untuk mewujudkan program kerja pemerintah dan pelaku usaha. Dengan adanya program BPOM Fasilitator Nasional, maka IWAPI mendorong pelaku usaha untuk mendapatkan kemudahan perizinan dan yang tidak kalah pentingnya bersama Kemenko PMK Bapak Aris yang terus mengawal dan mengevaluasi, serta begitu peduli pada Program Pemberdayaan Ekonomi bagi UMKM sehingga kami selalu berkordinisasi untuk kegiatan ini dengan harapan mampu mengangkat perekonomian, bersama IWAPI yang memiliki UMKM dimana semuanya perempuan pengusaha dengan jaringan diseluruh Indonesia."


Ema Setyawati selaku Direktur Pemberdayaan Masyarakat dan Pelaku usaha Olahan pangan BPOM menyampaikan,” UMKM bukan hanya dapat memasok produk ke masyarakat tetapi juga mengangkat ekonomi Nasional. Tingkatkan daya saing dan kualitas produk, maka harga juga akan bagus. Branding dan Promosi juga jangan ditinggalkan. Keamanan pangan adalah tanggung jawab kita bersama. Good safety is everyone’s business, Standar dari Produk, Standar proses produksi tetap harus dijalankan karena ada kaitannya dengan keamanan pangan”.

IWAPI saat ini memiliki 5 Fasilitator Nasional yang sudah profesial dan terukur kompetensinya, dalam melakukan tugasnya. 

“Pemahaman Tentang perizinan sangat penting yaitu persiapan SPP IRT, MD Number. Memang ada Checklist kebutuhan berkas Permohonan Sarana Produksi Pangan untuk UMKM, tapi yang lebih penting adalah pemenuhan fasilitas fisik (bangunan, peralatan dll) serta implementasi manajemen keamanan pangan sehari-hari yang sudah dijalankan oleh UMKM. Selain itu sebelum melakukan renovasi bangunan produksi, ruang layout produksi sebaiknya konsultasi dahulu dengan BPOM” pesan Yanty Melianty pemilik Magfood salah satu fasilitator nasional pada saat membawakan materi.

Pembicara lainnya, Ratna Dwikora pemilik Mie Aceh Seulawah, berbicara tentang Peralatan Produksi, Perawatan, Pembersihan, Sanitasi Peralatan, Hygiene Pekerja, pencegahan Cemaran udara, pengendalian hama. 

Setiap Fasilitator BPOM sudah mendapatkan dan menguasai materi yang didapatkan dari BPOM, kemudian juga memberikan TOT ke perwakilan IWAPI di seluruh Indonesia yang disebut sebagai fasilitator daerah BPOM IWAPI.

Jurika yang juga Fasilitator Nasional dan pembicara serta pemilik dari Lembaga Sertifikasi Profesi UMK, yang sering melakukan pendampingan kepada pengusaha yang bermasalah dalam mengurus perizinan mengatakan, ”Pentingnya Bagan Alir Produksi harus dibuat untuk setiap produk karena menyangkut hasil akhir produk juga tentang kemudian packaging dan penyimpanan”. 

Standarisasi harus diikuti oleh pelaku usaha terutama dalam ukuran standar Bahan Tambahan Pangan (BTP) tidak sedikit pelaku umk digruduk aparat karena diduga dengan tidak lengkap perizinan atau pemberian BTP berlebihan sehingga berbahaya bagi konsumen.

Acara ditutup dengan Fasilitator nasional dan pembicara Susanti Alie pengusaha saos cabe “CAP PAYUNG” yangi menyampaikan “SOP dan Quality Control/Sistem Pengecekan Kualitas Produk harus direncanakan pedoman tertulis, dimulai dari SOP agar berjalan dengan prosedur yang ada dengan tujuan mencapai goal yang sama. dan harus menjadi penyelesaian masalah yang timbul, serta adanya pandemic SOP harus ditambahkan misalnya adanya sanitizer tangan dan ruangan”

Hasil kegiatan yang dimulai dengan mengisi pretest dan terakhir mengisi post test, dengan hasil yang terkumpul peserta sangat antusiasme, dan memuaskan karena peserta banyak mendapapkan edukasi dan literasi.( Riz)

Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2019 Daily News | All Right Reserved